logo
logo
  • HOME
  • Believers Service
  • Komunikasi
  • Digital Support
  • Pendidikan
  • Kewirausahaan
  • Political Literacy
logo
logo
logo
  • AdminBungiwan
  • 0 Comments

Ketika Guru Terasing dan Layar Gawai Jadi Kompas Moral Baru Generasi Muda

Desember 21, 2025

Di era digital ini, teknologi telah merambah hampir setiap aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Layar gawai yang dulu hanya digunakan untuk hiburan kini telah menjadi alat utama dalam mengakses informasi dan berinteraksi. Namun, fenomena ini memunculkan sebuah pertanyaan penting: apakah layar gawai justru telah mengambil alih peran guru dalam membentuk nilai dan pandangan hidup generasi muda?

Ketergantungan pada Layar Gawai

Siswa masa kini hidup di dunia yang terhubung dengan berbagai informasi melalui perangkat digital. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu dengan gawai dibandingkan dengan berinteraksi langsung di dalam kelas. Banyak siswa yang lebih sering mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka melalui Google, media sosial, atau YouTube daripada bertanya kepada guru. Dalam banyak kasus, nilai-nilai kehidupan yang mereka peroleh lebih banyak berasal dari apa yang mereka lihat dan dengar di dunia maya, daripada dari ajaran moral yang disampaikan oleh guru.

Layar gawai telah menjadi kompas moral yang mengarahkan banyak siswa dalam melihat dunia, dengan segala keberagaman nilai dan pandangan yang ada di internet. Sayangnya, tidak semua informasi yang mereka dapatkan itu positif atau mendidik. Banyak konten yang tidak sesuai dengan norma atau bahkan memuat informasi yang salah, yang bisa mempengaruhi cara berpikir dan bertindak para siswa. Di sisi lain, kehadiran guru yang seharusnya menjadi figur sentral dalam pendidikan moral dan pembentukan karakter kini terpinggirkan.

Guru Terasing dalam Pendidikan Digital

Sebagai garda terdepan dalam pembentukan karakter siswa, guru seharusnya memiliki peran besar dalam mendidik dan memberikan arahan dalam kehidupan sosial dan moral. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa banyak guru merasa terasingkan dari dunia yang semakin didominasi oleh teknologi ini. Ketika pendidikan semakin bergantung pada teknologi, kehadiran guru di ruang kelas terasa semakin tidak relevan. Mereka mulai merasa bahwa peran mereka tidak lagi dihargai, karena banyak siswa yang lebih mempercayai informasi yang mereka temukan di internet dibandingkan dengan ajaran yang mereka terima langsung dari guru.

Fenomena ini mengarah pada terjadinya krisis kepercayaan antara guru dan siswa. Guru yang seharusnya menjadi teladan, justru seringkali dilupakan atau dianggap kurang menarik dibandingkan dengan “gurunya” yang ada di layar gawai—yaitu para influencer, selebritas, atau bahkan algoritma yang menentukan apa yang muncul di timeline sosial media siswa. Banyak siswa yang lebih mengutamakan “like” dan “followers” sebagai ukuran keberhasilan dan validitas informasi daripada memperhatikan nilai-nilai yang diajarkan di dalam kelas.

Tantangan Adaptasi Pendidikan di Era Digital

Sementara itu, dunia pendidikan menghadapi tantangan besar untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Sekolah-sekolah di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, sedang berupaya untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran. Teknologi bukan lagi sebuah pilihan, tetapi kebutuhan. Namun, penerimaan teknologi yang cepat oleh generasi muda tidak selalu diimbangi dengan kesiapan guru dan sistem pendidikan itu sendiri. Banyak guru yang masih kesulitan dalam memanfaatkan teknologi dengan efektif dalam pengajaran mereka.

Pendidikan di era digital membutuhkan perubahan mendalam dalam cara mengajar dan bagaimana menilai kualitas pendidikan. Teknologi harus dapat dimanfaatkan untuk memperkaya pengalaman belajar siswa, bukan menggantikan peran guru. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan keseimbangan antara teknologi dan peran guru dalam pembentukan karakter siswa. Dengan kata lain, meskipun teknologi dapat digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran, guru tetap harus menjadi figur yang memberikan arahan moral dan etika.

Peran Guru dalam Menghadapi Digitalisasi

Guru harus dapat bertransformasi menjadi fasilitator yang mengarahkan siswa untuk memilih informasi yang tepat dan relevan dari berbagai sumber digital. Mereka harus menjadi pembimbing yang membantu siswa menavigasi dunia maya, membimbing mereka dalam memfilter informasi, serta menanamkan nilai-nilai moral dan sosial yang seharusnya mereka pegang dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak hanya itu, guru juga perlu mengajarkan kepada siswa bagaimana cara berpikir kritis, serta pentingnya berbicara dan berdiskusi secara langsung dengan orang lain, bukan hanya melalui layar. Meskipun siswa lebih sering terhubung dengan dunia maya, guru harus berusaha menghidupkan kembali interaksi tatap muka yang menyentuh, yang membangun hubungan emosional dan memperkuat komunikasi antar manusia. Mengajarkan siswa untuk berempati, berbagi pengalaman, dan mendiskusikan nilai-nilai dalam kehidupan nyata jauh lebih efektif daripada sekadar memberikan informasi yang dapat dengan mudah ditemukan di internet.

Pendidikan Karakter di Era Digital

Tantangan utama dalam pendidikan saat ini adalah bagaimana mengajarkan karakter dan moral dalam dunia yang serba digital. Pendidikan karakter tidak bisa hanya mengandalkan kurikulum atau pelajaran yang formal. Diperlukan pendekatan yang lebih holistik, yang menggabungkan teknologi dengan nilai-nilai sosial dan moral. Pendidikan karakter di era digital ini seharusnya mencakup pengajaran tentang penggunaan teknologi yang bijak, serta mengajarkan siswa untuk memilah informasi yang mereka terima dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip etika dan moral yang benar.

Pendidikan karakter juga harus menekankan pentingnya kesadaran diri, empati, dan tanggung jawab sosial, yang semuanya dapat diperoleh melalui interaksi langsung dan refleksi diri, bukan hanya sekedar dari dunia maya. Guru harus dapat mengintegrasikan teknologi dalam cara yang mendukung nilai-nilai ini, dengan memanfaatkan berbagai platform digital untuk mendekatkan siswa pada pembelajaran yang lebih bermakna.

Kesimpulan

Pendidikan di era digital memang menghadirkan tantangan besar, terutama ketika guru mulai terpinggirkan dan layar gawai menjadi kompas moral baru bagi generasi muda. Namun, tantangan ini bukanlah hal yang tidak bisa diatasi. Guru harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran, sambil tetap menjadi figur yang memberikan arahan moral dan karakter kepada siswa. Di tengah kecanggihan teknologi, peran guru tetap tidak bisa digantikan—mereka adalah pilar yang harus tetap kuat dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki moral dan karakter yang baik.

 
 
  • Tag:
  • gawai
  • guru
  • layar
  • Share This :

Leave A Comment Cancel reply