WHITELABEL, PLR, EXTENDED LICENSE dan OPENSOURCE

by Bung Iwan

lets talk about this” hot” topic.

spesialnya dalam dunia bisnis produk digital.

terdapat banyak orang yang mau terjun ke dunia bisnis produk digital, namun

– tidak memiliki skill yang lumayan, atau

– tidak memiliki waktu yang lumayan, atau

– tidak mau mengawali dari NOL

dalam bagian product creation.

pemecahan awal, pasti saja serahkan kepada ahlinya, kerjasama/ partnership dengan orang yang dapat membuat produk digital, itu dapat jadi opsi terbaik.

statusnya pasti saja untuk hasil.

pemecahan kedua, bayar saja ahlinya, alias kita dapat hire orang maupun oursource ke orang yang dapat membuat produk digital buat kita.

statusnya pasti saja kepunyaan kita sendiri sebab kita telah bayar.

pemecahan ketiga, lebih gampang, beli saja produk digital yang memanglah memperbolehkan kita buat menjual kembali.

nah, ini yang hendak kita bahas.

terdapat sebagian berbagai wujud yang berbeda di pemecahan ketiga ini.

kita bahas satu per satu.

1) WHITELABEL

di luar situ memanglah terdapat sebagian creator produk digital yang menjual paket whitelabel dalam funnel produknya.

whitelabel di mari, maksudnya kita dapat menjualnya kembali dengan branding kita.

terkadang malah kita hanya tinggal ubah logo, ubah nama, pasang custom domain, berakhir, serta kita telah dapat langsung jualan.

modalnya juga tidak sangat besar, mulai dari$100 umumnya, terdapat pula yang lumayan mahal.

jadi tinggal beli, habis itu siapin salespage, telah kita dapat langsung jual ke market lokal, gunakan nama serta brand kita sendiri.

biasanya, produk whitelabel yang kerap kita temui dijual kembali di market lokal Indonesia dengan nama lain itu kebanyakan merupakan berbentuk aplikasi website alias SAAS( aplikasi as a service).

telah gitu, aplikasi web- nya sebagian besar turut creator aslinya di luar situ.

konsekuensinya, bila creator- nya suntik mati produknya, ya telah tentu penjual whitelabel- nya di lokal mari turut tutup pula, otomatis.

tetapi terdapat pula sebagian whitelabel yang lebih fleksibel, bukan berupa aplikasi website, maupun yang sediakan source code buat diinstall di hosting sendiri misalnya.

2) PLR

PLR ini kepanjangan dari Private Label Right.

berbeda dengan whitelabel di atas yang kebanyakan berupa aplikasi website, PLR ini lebih ke produk digital yang memanglah tinggal di- download saja.

dapat ebooks, dapat aplikasi, dapat video, dapat templates, dapat grafis, dkk.

kita tidak cuma diperbolehkan buat merubah branding- nya dari produk PLR yang telah kita beli ini, kita pula dapat merubah sebagian isinya cocok kemauan kita.

sehingga produk PLR tersebut dapat berganti total dari aslinya, seakan- akan memanglah asli kepunyaan kita.

nampak keren banget, memanglah iya, tetapi tantangannya merupakan mencari produk PLR yang bermutu, kemudian merubahnya jadi lebih bermutu lagi.

supaya kian layak jual serta laris manis tanjung kimpul.

di dasar PLR, terdapat pula bahan- bahan digital dengan lisensi” Resell Rights”( RR) serta” Master Resell Rights”( MRR).

produk dengan lisensi RR& MRR ini memperbolehkan kita menjualnya kembali dengan profit 100% masuk ke kita, tetapi kita tidak boleh memodifikasi serta membranding ulang, disini kelainannya RR& MRR dengan PLR.

3) EXTENDED LICENSE

sebutan Extended License ini sesungguhnya lumayan familir di Envato Market, salahsatunya CodeCanyon.

jadi menarik sebab” sebagian” product creator di CodeCanyon secara eksplisit( terus cerah) mengatakan kalau produknya boleh dipakai buat buat tools/ aplikasi website dimana kita menjual hak aksesnya ke end user, dengan ketentuan kita membeli produk tersebut dengan Extended License.

jadi ini sesungguhnya mirip dengan Whitelabel di atas, tetapi sebab Whitelabel license tidak terdapat di Envato Market, hingga sebagian creator gunakan Extended License saja selaku wadahnya.

seperti itu mengapa aku sebut” sebagian”, sebab tidak seluruh product creator di CodeCanyon memperbolehkan praktek semacam ini dengan Extended License.

makanya, bila sang owner produk tidak menyebut secara jelas perihal tersebut di deskripsi produk/ salespage, lebih baik langsung ditanya ke yang bersangkutan, boleh ataupun tidak, buat menghindari terbentuknya permasalahan di setelah itu hari.

telah begitu, terkadang sang product creator juga memiliki ketentuan& syarat yang berlaku buat perihal tersebut, serta dapat berbeda- beda buat produk yang berbeda.

selaku contoh, misal, kita boleh membeli Extended License Visual Composer( WPBakery Page Builder) buat setelah itu kita masukkan ke theme Wordpress yang kita jual di ThemeForest, tetapi perihal itu tidak boleh kita jalani buat theme yang kita jual di luar ThemeForest( dahulu sempat boleh saat ini telah tidak boleh).

jadi ketentuan& ketentuannya itu suka- suka sang product creator itu sendiri.

4) OPEN SOURCE

nah, open source ini aku letakkan di bagian dasar, sebab ini lebih unik.

awal, kita samakan anggapan dahulu ya, kalau Open Source itu tidak sama dengan 100% gratis alias 100% gratisan.

tetapi, open source itu gratis/ free, tetapi dengan sebagian ketentuan& syarat yang berlaku.

open source pula sesungguhnya memperbolehkan kita buat meng- komersial- kan produk open source tersebut, tetapi pula dengan sebagian ketentuan& syarat yang berlaku.

open source pula sesungguhnya membagikan ruang kepada kita buat membuat produk turunan, istilahnya” forking”, jadi produk kita, tetapi pula dengan ketentuan& syarat yang berlaku.

jadi fokus aku itu lebih ke” ketentuan& syarat” yang wajib kita patuhi di mari.

misal, bila terdapat yang ambil suatu plugin WordPress dengan lisensi opensource, kemudian setelah itu di- rebranding ulang dengan nama kita, serta kita hapusin seluruh jejak dari plugin pengembang tadinya, itu jelas salah, ditentukan sebab tidak menguasai ketentuan& syarat” forking” di dunia open source.

selaku contoh, ambil saja langsung LandingPress, kami memodifikasi sedikit Elementor yang gratis( tipe open source), perihal itu disebabkan usulan kami ke Elementor tidak direspon oleh pengembang Elementor sebab mereka telah memiliki rencana development yang berbeda.

tetapi apakah kami merubah nama Elementor jadi LandingPressBuilder misalnya? ndak, kami senantiasa bangga serta tegap menyebut kalau kami mengenakan plugin Elementor, yang sedikit kami modifikasi.

tidak hanya itu, kami hanya modifikasi Elementor yang gratis saja, bukan Elementor Pro( tipe premium).

tidak hanya sebab alibi etika selaku sesama product creator, dahulu di dini kemunculannya Elementor Pro itu tidak 100% GPL lho, serta pernah sebagian kali jadi perdebatan pula.

lha jika kami gunakan Elementor Pro di LandingPress, telah tentu LandingPress hendak dituntut disuntik mati dari dahulu.

jadi di mari aku mencontohkan kita dapat memakai plugin open source selaku” bagian” dari produk kita, tanpa wajib rebranding ulang, tanpa wajib sembunyi- sembunyi.

serta terdapat banyak produk open source yang dapat kita gunakan buat membuat produk digital.

misalnya, Bootstrap CSS Framework, ini dapat kita gunakan buat membuat template website( HTML/ WordPress/ etc) dengan kilat& gampang, tanpa butuh bayar ke creator Bootstrap.

misalnya lagi, FontAwesome icon( tipe gree), ini dapat kita gunakan buat icon- icon di template website( HTML/ WordPress/ PowerPoint/ etc) kita, tanpa butuh bayar ke creator FontAwesome.

yang butuh kita jalani merupakan, jangan di- rebranding ulang, orang yang gunakan telah tentu ketahui itu Bootstrap, itu FontAwesome, serta kita ucapkan pula terimakasih buat creator- nya.

jadi bahan- bahan open source ini sangat- sangat menolong kita dalam membuat produk digital, sehingga kita tidak wajib membuat dari NOL banget.

misalnya lagi serta lagi, terdapat opensource website builder, namanya GrapeJS, walaupun UI/ UX- nya kurang asik, kita dapat pula memanfaatkannya jadi pondasi buat website builder kita sendiri.

terdapat banyak, yang berarti yakinkan pahami ketentuan& syarat di dunia open source.

nah, kira- kira telah sedikit mengerti kan kira- kira perbandingan tiap- tiap pemecahan di atas itu?

yang terutama dimengerti berikutnya merupakan,

buyer produk digital di market lokal ini sebagian telah melek dengan perihal di atas.

yang kesimpulannya sebagian dari mereka itu Luar biasa KEPO serta Luar biasa KRITIS.

kita sesungguhnya tidak dapat lagi menyembunyikan bila suatu produk digital ini merupakan produk whitelabel kah, produk PLR kah, produk CodeCanyon kah, maupun produk opensource.

tentu hendak terdapat saja yang ketahui, serta setelah itu kabar kilat tersebar.

sesungguhnya tidak terdapat permasalahan sama sekali koq.

aku dapat bilang kalau seluruh metode di atas merupakan 100% HALAL, asal menjajaki ketentuan& syarat yang terdapat.

misal terdapat jualan aplikasi website gunakan extended license dari CodeCanyon, ya tidak papa kan, asal telah ijin product creator- nya.

orang yang ngerti tentu hendak senantiasa beli di CodeCanyon, kemudian setup sendiri di domain& hostingnya sendiri.

orang yang tidak ngerti serta males repot hendak dimudahkan sebab tidak butuh repot serta dapat langsung gunakan.

jadi seluruh metode di atas tidak terdapat yang seluruhnya salah.

yang bisa jadi jadi permasalahan sesungguhnya merupakan kala terdapat sebagian sahabat yang turut mempromosikan produk tersebut, mengatakan kalau produk tersebut merupakan,

” asli karya anak bangsa”.

serta telah tentu kata ini hendak menyulut perbandingan komentar di golongan banyak orang.

apakah produk tersebut layak diucap selaku” asli karya anak bangsa” kala tidak 100% buatan dari nol, apalagi hanya rebranding doang?

apa standard minimun suatu produk digital itu layak diucap selaku” asli karya anak bangsa”?

yang tentu belum terdapat standard yang baku di bagian ini.

di mari tiap- tiap orang hendak memiliki komentar yang berbeda.

serta itu sah- sah saja.

toh yang memanglah perlu serta hasrat beli hendak senantiasa beli, serta yang memanglah tidak hasrat beli ya tidak hendak beli.

 

You may also like

Leave a Comment