Kiat memimpin karyawan yang lebih senior

Suatu hari kelak, mungkin Anda akan mendapatkan promosi jabatan dan diminta untuk memimpin karyawan lain yang usianya lebih tua atau pengalaman kerjanya lebih luas/panjang daripada Anda. Biasanya, situasi semacam ini memunculkan ketakutan, stres, kecemasan, khawatir, atau tegang.

Dalam budaya timur, termasuk di konteks pekerjaan, seorang pemimpin yang lebih muda dari karyawannya harus bekerja ekstra keras untuk membangun kepercayaan dari mereka karena senioritas sering kali masih dijunjung tinggi. Lalu, bagaimana cara menghadapi situasi ini?

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk selalu meminta hikmat-Nya, dan ini berlaku pula saat kita harus memimpin karyawan yang lebih senior. Galatia 6:10 secara khusus memperingatkan agar kita tidak jemu melakukan hal yang baik (termasuk kepada karyawan senior yang kita pimpin, meskipun mungkin dia/mereka menyebalkan dan “sok tahu”), supaya kita bisa menuai hasil yang baik pula di kemudian hari.

Berikut adalah beberapa kiat yang bisa Anda lakukan agar hubungan profesional Anda dengan karyawan Anda yang lebih senior tetap efektif dan bermanfaat maksimal bagi pekerjaan:

1. Ingat status dan posisi masing-masing
Pertama-tama, sadarilah bahwa ketika Anda dipromosikan menjadi seorang pemimpin, Anda sudah diberikan wewenang untuk mengatur atau mengelola siapa pun yang berada di bawah kepemimpinan Anda. Karena itu, jangan terjebak di dalam perasaan khas para pemimpin muda: inferior, tidak percaya diri, tidak mampu, sungkan, dsb. Tetapkan pikiran Anda:
• Saya adalah pemimpin mereka.
• Saya sudah diberikan wewenang penuh oleh perusahaan untuk memimpin mereka.
• Saya harus menggunakan wewenang saya untuk memimpin mereka masing-masing, termasuk yang sulit dan tidak kooperatif.

2. Buang paradigma yang salah: “harus selalu menuruti perintah orang yang lebih tua”
Dalam budaya timur seperti di Indonesia, kita sejak kecil sudah diajarkan untuk menghormati orang tua yang lebih tua. Sayangnya, sering kali ajaran ini diterjemahkan menjadi “harus selalu menuruti perintah orang yang lebih tua”, tanpa peduli masing-masing pihak benar atau salah, yang lebih muda harus menghormati dan menaati yang lebih tua tanpa membantah sama sekali. Argumentasi apa pun di luar ini pun dianggap kurang ajar, termasuk di lingkungan atau situasi kerja. Buang paradigma ini dan gantikan dengan kebenaran:
• Saya harus menghormati siapa pun di pekerjaan, baik muda maupun tua.
• Menghormati orang lain bukan berarti saya harus menuruti dan tunduk kepada hal-hal negatif dari orang itu.
• Saya harus menggunakan wewenang saya sebagai pemimpin untuk mengatur perilaku tidak kooperatif pada karyawan, baik yang lebih muda maupun lebih tua daripada saya.
• Saya harus bersikap tegas (meskipun ini bukan berarti saya marah-marah) terhadap karyawan senior yang tidak mau mengikuti aturan pekerjaan atau yang tidak kooperatif dengan kepemimpinan saya.

3. Jangan percaya begitu saja kepada stereotipe
Sebagai pemimpin, mungkin Anda menilai bahwa karyawan senior cenderung tidak memiliki keahlian yang terbaru dan malas untuk mempelajari hal-hal yang baru sesuai dengan perkembangan zaman. Namun sesungguhnya, ini adalah stereotipe, yaitu pandangan umum (yang bisa saja salah). Banyak dari karyawan senior di berbagai perusahaan tetap bersemangat untuk mempelajari hal-hal baru walaupun posisi mereka sudah “mentok”. Selain itu, biasanya karyawan senior juga memiliki segudang pengalaman yang berharga karena mereka telah melakukan pekerjaannya jauh lebih lama daripada Anda. Intinya, jangan terlalu cepat memercayai stereotipe; kenali masing-masing karyawan senior yang Anda pimpin dan maksimalkan potensi mereka untuk tim kerja.

4. Bersikaplah rendah hati selalu
Walaupun Anda lebih muda dan sudah menjadi seorang pemimpin, Anda tidak akan pernah bisa bekerja sendiri dan meraih target dengan maksimal tanpa bantuan tim; dan di dalam tim itu ada mereka, karyawan-karyawan senior. Lagipula, Anda juga tidak akan bisa meraih rasa hormat yang tulus dari mereka tanpa menempatkan diri sebagai seorang pemimpin yang rendah hati. Pastikan Anda selalu bersikap rendah hati dan jauhkan sikap sok pintar atau sok tahu yang sombong.

5. Sampaikan ekspektasi Anda dengan jelas
Sekali lagi, Anda adalah pemimpin, yang berhak bahkan punya wewenang untuk mengemudikan arah gerak tim kerja. Sampaikan ekspektasi Anda kepada tim dengan tegas, jelas, dan percaya diri; dengan merumuskan bagian masing-masing anggota tim serta alur kerja di dalam tim secara mendetail. Meskipun karyawan Anda lebih senior, hindari kata-kata “mohon maaf” atau “sebenarnya saya tak enak hati” atau semacamnya saat Anda menyampaikan ekspektasi itu. Ingat, Anda sedang melakukan tanggung jawab Anda memimpin mereka, maka Anda tidak perlu sungkan. Sampaikan berbagai ekspektasi Anda kepada karyawan senior, misalnya:
• Saya akan memperlakukan siapa pun di bawah saya, baik yang muda atau yang senior, dengan perlakuan yang sama.
• Saya minta semua anggota dalam tim kita ini saling menghormati. Saya menghormati Anda sebagai team player bersama saya, dan saya juga minta Anda menghormati saya sebagai koordinator tim.
• Saya mengharapkan pengalaman dan pandangan Anda sebagai karyawan yang lebih senior, sebagai kontribusi yang bermanfaat bagi tim kita.

6. Terbukalah terhadap saran dan kritik
Kelola tim kerja Anda, termasuk karyawan-karyawan senior, dengan rasa percaya diri, tetapi tetap izinkan mereka menyampaikan ide, saran atau bahkan kritik terhadap tim dan terhadap Anda. Bersikaplah terbuka terhadap masukan. Jika ide, saran, dan kritik mereka itu baik dan membangun, terimalah dan terapkan ide/saran/kritik itu. Sebutkan nama mereka dan kontribusi masukan mereka itu di hadapan seluruh tim kerja sebagai suatu bentuk penghormatan dan pengakuan. Dengan cara ini, Anda meraih rasa hormat dan percaya dari mereka, sehingga mereka akan semakin kooperatif. Namun, Anda harus mempertimbangkan setiap masukan sebelum memutuskannya. Keputusan akhir tetap berada di tangan Anda sebagai pemimpin; Anda tidak wajib melakukan setiap masukan.

7. Budayakan saling membantu dalam tim
Pada umumnya, karyawan senior senang menceritakan pengalaman mereka dan memberikan sedikit nasihat kepada mereka yang lebih muda. Adopsi pandangan mereka jika cocok untuk tim, atau setidaknya pertimbangkan dan tampung saja jika ternyata tidak cocok. Di sisi lain, Anda sebagai pemimpin juga wajib menolong, melatih, dan memfasilitasi mereka agar tetap updated dalam keahlian dan wawasan. Perpaduan nasihat dan pengalaman mereka dengan keahlian dan wawasan Anda tentu akan menghasilkan manfaat yang amat positif bagi tim kerja.

Sekali lagi, janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik. Selamat berbuat baik dan menuai hasilnya!. sumber

Subscribe

Trimakasih untuk kunjungan anda di BungIwan.com untuk update info terbaru, Silahkan isi email anda. Trimakasih

No Responses

Tinggalkan Balasan