Kehendak bebas yang bertanggung jawab

Tuhan menciptakan manusia serupa dan segambar dengan diri-Nya. Ia memberikan kehendak bebas untuk manusia, agar manusia menguasai bumi dan menaklukkannya sesuai dan selaras dengan model dan gaya ilahi; karena manusia memiliki keserupaan dengan Allah. Namun sejak manusia jatuh dalam dosa, kehendak bebas manusia menjadi cacat sehingga manusia cenderung menuruti keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup, yang semuanya berlawanan dengan kehendak Allah.

Kehendak bebas manusia perlu dikembalikan kepada kesempurnaan rencana Allah dalam Kejadian 1:26-28, yaitu suatu kehendak bebas manusia yang taat dan menuruti kehendak Allah.

Ketika kita memutuskan percaya kepada Yesus dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi, secara rohani telah terjadi pemulihan hubungan dengan Allah, yang sebelumnya rusak karena dosa. Ini berarti secara rohani kita telah:

Menjadi ciptaan baru
Manusia lama kita dengan tabiat dosa telah diubahkan menjadi manusia baru di dalam Kristus. Tidak lagi sebagai hamba dosa yang memberontak kepada Allah; kita telah menjadi hamba kebenaran di dalam Kristus.
1 Korintus 5:17: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Berpindah dari maut kepada hidup
Sebelum percaya Yesus kita ada di dalam maut karena keterpisahan hubungan dengan Allah akibat dosa. Sekarang, kita menerima jaminan hidup kekal karena status kita sudah ditebus dengan darah Yesus.
Roma 6:20: “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.”
Roma 6:23: “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Yohanes 5:25: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepadaDia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”

Memperoleh anugerah Tuhan yang sempurna
Efesus 2:9: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.”

Pertanyaannya, bagaimana caranya supaya kehendak bebas manusia kembali seperti rencana Allah yang semula atau Amanat Allah semula dalam area jiwa dan tubuh?

Firman Tuhan dalam Matius 16:24 berkata, “Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.’” Kalau kita melihat konteks dari ayat ini, Yesus mengucapkan perkataan tersebut setelah Dia menegur Petrus. Sebelumnya, Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Sang Mesias, Anak Allah yang hidup (lihat ayat 16-19), tetapi di ayat selanjutnya ini, Petrus justru mencoba menghalangi Yesus untuk menerima rencana Allah, yaitu untuk menerima siksaan, dibunuh, dan kemudian bangkit pada hari ketiga (lihat ayat 21-22). Di ayat 23 dikatakan bahwa Yesus menegur Petrus dengan keras, karena Petrus menempatkan pemikirannya sendiri di atas apa yang dipikirkan oleh Allah.

Nah, bagaimana penerapan penyangkalan diri dalam praktik hidup sehari-hari?

1. Penyangkalan diri berarti mengikuti Kristus
Dalam konteks inilah, setelah Yesus menegur Petrus, Dia kemudian mengatakan bahwa setiap orang yang mau mengikuti Yesus, harus melakukan apa yang dilakukan oleh Yesus, yaitu melaksanakan kehendak Bapa. Ini berarti seseorang harus melakukan doa seperti yang Yesus doakan dalam taman Getsemani, “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Mat. 26:39, 42, 44). Ini berarti seseorang juga harus memikul salib, seperti yang Yesus lakukan. Arti sederhananya, siap sengsara dan menderita. Namun, menerima penderitaan ini harus dilandasi oleh kasih kepada Allah (lihat 1 Kor. 13:3) dan kebenaran akan Kristus (lihat Mat. 5:10-11)

2. Penyangkalan diri menempatkan kebenaran di atas segalanya.
Menyangkal diri adalah menempatkan kebenaran dan kehendak Allah lebih tinggi daripada keinginan pribadi. Ini adalah suatu tindakan yang tidak mudah, karena kita sering melakukan segala hal yang kita anggap gampang dan menguntungkan kita, tanpa mempertimbangkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Tuhan dalam kehidupan kita. Berapa sering dalam kehidupan sehari-hari kita bertanya terlebih dahulu kepada Allah sebelum mengambil keputusan-keputusan? Penyangkalan diri melibatkan pertobatan yang terus-menerus, yang lahir dari kerendahan hati yang menjadi karakter.

3. Penyangkalan diri didasari oleh kasih kepada Allah
Penyangkalan diri yang terus-menerus yang didasari oleh kebenaran dan kasih kepada Allah, dan akan mengubah diri kita menjadi semakin mirip dengan Kristus. Penyangkalan diri seperti ini akan membawa kita kepada kebebasan, karena kebenaran itu membebaskan (lihat Yoh. 8:32). Dengan kebebasan yang benar ini, kita akan semakin mengikuti perintah Allah dengan lebih mudah dan lebih siap, karena mengikuti perintah Allah telah menjadi karakter atau menjadi bagian dan kebiasaan jiwa kita (pikiran, perasaan, dan kehendak kita).

Pada akhirnya, seseorang yang mampu menyangkal diri akan berkata seperti Paulus berkata dalam Galatia 2:20, “…namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Demikianlah kehendak bebas kita menjadi kehendak bebas yang bertanggung jawab, selaras dengan kehendak dan pikiran Kristus, sesuai rancangan awal Allah bagi manusia.
Tuhan memberkati.

Subscribe

Trimakasih untuk kunjungan anda di BungIwan.com untuk update info terbaru, Silahkan isi email anda. Trimakasih

No Responses

Tinggalkan Balasan