7 kiat agar generasi milenial betah dalam bekerja

Sekilas informasi saja, generasi di dunia kerja digolongkan menurut tahun kelahirannya masing-masing: baby boomers (mereka yang lahir pada tahun 1945–1960), generasi X (mereka yang lahir pada tahun 1961–1980), generasi Y (mereka yang lahir pada tahun 1981–1995), serta generasi Z (mereka yang lahir pada tahun 1995 atau setelahnya). Masing-masing generasi memiliki ciri-ciri perilaku yang khas di lingkungan kerja, dan perubahan-perubahan global turut memengaruhi hal ini. Generasi Y dan Z sering kali juga disebut sebagai kaum milenial. Apa saja ciri-cirinya?

1. Ingin perubahan yang cepat
Generasi milenial adalah generasi yang “tidak sabar” dalam hal menantikan waktu dan proses. Ini termasuk dalam meniti karier. Jika dalam waktu dua-tiga tahun tidak ada perubahan yang berarti bagi dirinya, generasi milenial cenderung meninggalkan pekerjaannya alias pindah ke perusahaan lain atau memulai sesuatu yang baru.

2. Butuh atasan/pemimpin yang bisa menjadi mentor
Mereka membutuhkan sosok pemimpin yang bukan saja menjadi “bos” (memberikan instruksi), tetapi juga bisa mendampingi dan melatih untuk mereka berkembang, baik dalam hal pengetahuan, keterampilan, meupun produktivitas

3. Suka dilibatkan dan diajak diskusi, bukan sekadar diperintah
Generasi milenial sudah terdidik untuk bekerja sama dalam tim, berdiskusi dalam kelompok, bahkan berargumentasi demi mempertajam pencapaian suatu target. Berdasarkan sebuah studi, 88% dari generasi milenial lebih memilih bekerja secara tim alias berkolaborasi. Itulah mengapa mereka lebih suka kantor dengan budaya kolaborasi, bukan gaya perintah yang “asal setiap orang bekerja dengan beres”.

4. Bekerja sambil beraktivitas di media sosial di jam kerja
Bagi mereka, beraktivitas dan berinteraksi di media-media sosial seperti Instagram, WhatsApp, atau Facebook, adalah bagian dari short-term refreshing saat bekerja. Dengan gaya bekerja seperti ini, mereka terhindar dari kejenuhan dan terbantu untuk tetap berkonsentrasi. Sayangnya, bagi generasi baby boomers dan generasi X (yang sering kali berada pada posisi atasan/pemimpin bagi generasi milenial di pekerjaan), perilaku seperti ini dianggap tabu dan “mencuri waktu kerja”.

5. Pekerjaan di perusahaan hanyalah sementara
Menjadi wirausaha adalah topik yang paling populer di kalangan generasi milenial. Saat ini, 38% dari generasi milenial berencana menjalankan bisnis mereka sendiri setidaknya dalam waktu tiga tahun ke depan (ini terutama terjadi pada generasi milenial yang berusia di bawah 30 tahun).

 

Lima ciri ini merupakan yang terpenting untuk kita kenali pada generasi milenial dalam situasi kerja. Karena kelima ciri ini, jelaslah apa latar belakang generasi milenial sering dinilai kurang loyal dalam pekerjaan, mudah berganti-ganti tempat kerja, dan tidak dapat diandalkan untuk jangka panjang. Lalu, bagaimana sebaiknya kita mempertahankan komitmen generasi milenial dalam bekerja? Kuncinya adalah membuat mereka betah, dan hal ini bisa dilakukan melalui beberapa kita berikut:

1. Ciptakan suasana/lingkungan kerja yang kondusif
Suasana kerja yang sifatnya kekeluargaan merupakan hal penting dalam bekerja. Ingat, generasi milenial suka berinteraksi dan berkolaborasi. Suasana kerja yang mendukung, kompak, bersahabat, dan menyenangkan menjadi salah satu pertimbangan bagi seorang karyawan generasi milenial untuk memilih tempat kerja dan bertahan di dalamnya.

2. Perbaiki gaya kepemimpinan para atasan
Saat ini, setiap atasan/pemimpin perlu beradaptasi mempraktikkan gaya kepemimpinan Leadership 4.0, yang beradaptasi terhadap gaya hidup generasi milenial. Jadilah mentor yang baik, komunikatif dan tidak kaku, selalu terbuka pada saran dan ide, serta team player yang menyenangkan dan bergaul dengan mereka. Buang gaya lama Anda yang hanya duduk seharian di balik batas ruangan atau meja kerja Anda sambil sesekali memberikan instruksi (dan memarahi mereka)!

3. Sediakan program pengembangan diri yang sistematis dan efektif
Memiliki kesempatan untuk belajar, mengembangkan diri, dan mendapat bimbingan (mentoring) dari orang yang lebih senior ialah faktor pertimbangan posotof yang sangat penting bagi generasi milenial dalam pekerjaan. Karena itu, pastikan tim atau perusahaan Anda memiliki mekanisme atau system pengembangan diri yang sistematis dan efektif untuk semua karyawan, termasuk generasi milenial.

4. Berikan keleluasaan dalam hal cara/proses, asalkan target tetap tercapai (gunakan pendekatan yang berorientasi pada hasil)
Kebanyakan generasi milenial berjiwa bebas dan suka berinteraksi di media sosial, maka sebaiknya perusahaan menyesuaikan budaya kerjanya. Izinkan suasana santai yang memudahkan karyawan milenial untuk saling berinteraksi, misalnya dengan menyediakan open office atau kantor tanpa sekat-sekat tertutup. Selain itu, berikan keleluasaan untuk mereka melakukan cara dan prosesnya sendiri untuk mencapai target; Anda dan perusahaan tak perlu mendikte mereka secara terperinci. Misalnya, izinkan mereka bekerja sambil mendengarkan musik (menggunakan headset) atau sesekali bekerja diselingi menggunakan media sosial. Yang penting, pastikan target kerja selalu tetap tercapai. Cara dan proses mereka harus membuat mereka semakin efektif dan produktif dalam pekerjaan.

5. Berikan feedback secara berkala
Generai milenial akan mudah mengalami demotivasi dalam bekerja bila tidak mendapatkan feedback, pengakuan, dan apresiasi atas pencapaian mereka. Bahkan, mereka pun membutuhkan kritik yang mempertajam dan memperbaiki mereka, asalkan jelas dan tegas tanpa diwarnai sentiment pribadi atau terkait dengan ini-itu yang sebenarnya tidak relevan! Semua ini berguna dalam mememotivasi mereka untuk meningkatkan pencapaian di penugasan yang akan datang. Berikan feedback secara real-time dan berkala, sehingga mereka tahu apa yang perlu diperbaiki dan apa yang sudah berjalan dengan baik.

6. Ciptakan komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan
Generasi milenial butuh didengar, diperhatikan, dan dipakai ide-idenya (jika bagus dan cocok). Mereka tidak suka dinilai berdasarkan kriteria yang tidak relevan seperti usia, penampilan, masa kerja, apalagi latar belakang SARA! Atasan/pemimpin yang cenderung otoriter, pendiam, jarang mau mendengar ide-ide baru dari bawahan, hanya senang memberi instruksi, hanya percaya kepada yang senior, akan segera ditinggalkan oleh karyawan generasi milenial.

7. Ciptakan budaya kerja yang paperless
Generasi milenial paling tidak betah berurusan dengan banyak kertas. Mengisi banyak formulir, membuat laporan secara manual, menyiapkan presentasi yang harus melibatkan pekerjaan dan tulisan tangan; semua ini membuang-buang waktu dan fokus mereka. Generasi milenial sudah terlatih terampil menggunakan teknologi paperless: komputer, ponsel, dan berbagai perangkat modern lainnya menjadi fasilitas yang membantu mereka menjadi lebih efektif dan produktif. Komunikasi dalam bertukar ide atau berdiskusi pun menjadi lebih mudah dan cepat (sekaligus datanya tersimpan sebagai arsip) dilakukan secara non-verbal dengan teks.

 

Sebagai atasan atau pemimpin di pekerjaan, kita perlu hikmat Tuhan untuk menangani generasi milenial yang gaya kerja dan cara berpikirnya sudah sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Hikmat Tuhan didapat dari belajar setiap saat melalui sumber-sumber yang sejalan dengan Firman Tuhan. Lukas 6:31 mengingatkan kita, “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Jika kita ingin generasi milenial betah bekerja bersama kita, perlakukan mereka sesuai yang kita sendiri ingin diperlakukan, yaitu dengan mengakomodasi gaya dan cara berpikir mereka serta maju bersama-sama dengan mereka. Keengganan atau keterlambatan melakukan perubahan yang baik akan membuat kepemimpinan dan lingkungan kerja Anda ditinggal oleh bibit-bibit bagus yang masih muda dan berpotensi cerah ini, sehingga akibatnya Anda hanya memiliki tenaga kerja yang berkualitas rendah. sumber

Subscribe

Trimakasih untuk kunjungan anda di BungIwan.com untuk update info terbaru, Silahkan isi email anda. Trimakasih

No Responses

Tinggalkan Balasan